Cerita Fiksi, Suami Muda Dari Facebook

adsense 336x280
SUAMI MUDA DARI FACEBOOK
Penulis: Annisa Firdausi Nuzula

Kisah ini berawal dari keikutsertaanku pada sebuah event menulis yang diselenggarakan oleh seorang akun master literasi. Aku yang masih sangat baru di dunia kepenulisan, bahkan tidak tahu jika sang penanggung jawab event adalah seorang penulis yang mumpuni. Dengan PD-nya, tulisan yang masih amburadul itu kudaftarkan pada grup event cerpen bertema tetangga.

Beberapa menit kemudian, ada pesan masuk ke messenger. Seseorang yang tidak berteman dengan akunku. Leo Wijaya namanya. Isi pesannya sebagai berikut.
[Maaf, Kak Raisya. Tulisan Kakak dalam event cerpen tema tetangga tidak bisa saya acc. Karena masih sangat jauh dari kata layak diikutkan event. Ide cerita sebenarnya  menarik, hanya saja Kakak harus belajar lagi tentang cara menulis yang benar. Peletakan tanda baca dan huruf kapital acak-acakan. Jika Kakak berkenan mengikuti kelas dasar kepenulisan, silakan gabung di WAG ini 085646555***. Akan saya bimbing sampai bisa. Mumpung gratis.]

Sedih rasanya mengetahui tulisanku yang dikatakan acak-acakan, tapi juga ada asa yang terselip, karena ditawari kelas menulis gratis. Setelah bersepakat dengan isi kepalaku, akhirnya kuputuskan menjawab chat-nya lelaki yang belum kukenal itu.
[Baiklah, Bang Leo, saya bersedia mengikuti kelas menulis. Tapi, apa saya nantinya masih bisa ikut event?]

[Tentu saja bisa, event kami baru dibuka dan masih ada waktu dua puluh hari untuk belajar. Insya Allah Kakak bisa, wong tinggal memperbaiki tanda baca saja.]

Balasan chat Leo membuatku semangat belajar. Setiap jam tujuh malam, aku serius menyimak  materi yang diberikan sang master. Benar kata Leo, dalam waktu seminggu aku sudah paham teknik dasar menulis. Kemudian, mulai memperbaiki cerpen yang akan kuikutkan event.

Kali ini, sebelum mengirimnya di grup literasi Facebook, aku terlebih dulu minta pendapat Leo. Kukirim tulisan melalui ruang pribadi untuk meminta kritik dan sarannya. Lelaki itu memberikan jawaban yang memuaskan. Katanya cerpenku bagus dan tulisan juga sudah rapi. Aku bersorak kegirangan.

Sebagai tanda terima kasih pada Leo karena telah memberi ilmu secara gratis, maka aku berinisiatif mengiriminya pulsa sepuluh ribu, tanpa memberitahunya. Beberapa saat setelah pulsa berhasil dikirim oleh petugas konter,  nomor Leo meneleponku.

Hah, angkat gak, ya? Aku jadi berdebar. Aneh. Dengan bimbang kuseret tombol hijau di layar gawai. Terdengar suaranya yang maskulin mengucap salam. Aku menjawab dengan suara bergetar.

“Kak Raisya, ngisiin pulsa, ya?” Dia menebak.
Aku mengangguk tersenyum.

“Hallo, Kak, Kakak bisa dengar suaraku?”

Eh, iya, dia, kan tidak bisa melihatku meskipun aku mengangguk dengan senyum tulus. Raisya, kamu, kok, jadi sableng, sih.

“Oh, iya, Leo. Aku gak bermaksud menghina lho, ya. Maaf cuma bisa ngisi sepuluh ribu, doang. Makasih banyak kamu dah mau mbagi ilmu ke aku.”

“Gak pa-pa, Kak. Ilmu emang harus dibagi biar manfaat, asal jangan cinta aja yang dibagi, hihi.” Gurauan Leo sukses membuatku senyam-senyum tak karuan.

Aku tidak pernah menyangka bahwa komunikasi kami akan berlanjut dan intens. Akun Leo pun meng-add Facebook-ku. Kawan-kawan literasi bahkan ada yang terang-terangan iri padaku. Ada juga yang langsung memprotes Leo, saat dia mengirim ucapan terima kasih karena aku telah bersedia mengkonfirmasi permintaan pertemanannya.

“Ih, Kak Leo ... aku dah lama add gak ditanggepin juga!”

“Cie, tumben Kak Leo nge-add akun seseorang duluan.”

“Aduh, Mbak, beruntungnya kamu yang masih newbie langsung di-add sama penulis kece.”

Komentar-komentar sejenis  bertebaran di kolom komentar postingan Leo di berandaku. Sempat penasaran juga, kenapa begitu banyak kaum hawa yang menunggu di konfirmasi Leo dan pertanyaan di benakku terjawab sudah saat aku stalking akunnya.

Ternyata selama ini aku dekat dengan penulis hebat yang karya-karyanya sangat dikagumi para wanita. Karena, kebanyakan cerpen dan cerbung Leo berisi tentang emansipasi wanita. Aksara yang dirangkainya mampu membuat ibu-ibu muda baper tak karuan. Terbukti dari reaksi mereka di komentar.

💙

Tak terasa enam bulan lamanya aku menjalin hubungan dengan Leo di dunia maya. Entah siapa yang memulai, tiba-tiba kami saling merindukan. Bahasan yang awalnya hanya seputar literasi, kini berubah jadi dari hati ke hati.

Suatu malam Leo menelepon, menanyakan aku sudah punya pacar apa belum? Aku jawab belum, karena nyatanya aku masih jomlo. Lalu dia mengajak video call-an, tapi aku menolak.
“Maaf Leo, aku malu. Kamu ntar pasti kecewa, aku ini gak cantik,” ucapku.

Kemudian, dia menjawab dari ujung telepon,”Ra, aku gak lihat cewek semata-mata dari parasnya, aja. Yang penting, selama kita komunikasi, aku merasa nyaman dan klik sama kamu.”

Aku masih terdiam, tak bisa menanggapi pernyataan Leo. Akhirnya, lelaki itu kembali berucap.
“Ok, deh, kalau kamu gak mau video call-an, kita ketemuan aja gimana?”

“Mana bisa, kita kan beda provinsi. Jauh. Kamu di Jakarta aku di Surabaya.”

“Jangankan Jakarta-Surabaya, menyeberang laut Jawa pun akan kuarungi demi cinta.” Penuturan Leo membuat wajahku menghangat. Bunga-bunga cinta di hatiku bermekaran karena tutur katanya.

Sejak obrolan malam itu, Leo semakin gencar menebar kata cinta padaku. Bukan hanya di telepon dan chat pribadi, tapi dia mulai berani menuliskan kata sayang dan rindu di berandaku. Sontak, hal itu menggegerkan dunia literasi.

Gadis-gadis muda banyak yang merasa keberatan. Bahkan beberapa teman literasi tiba-tiba memblokirku. Ada juga yang mengatakan tak sanggup melihat Leo bersanding denganku yang masih newbie. Namun, ada juga beberapa yang mendukung. Hah, ada-ada saja.

Akhir November, Leo mendesak untuk bertemu. Aku mengajukan alasan tidak berani dan tidak pernah keluar kota sendiri. Akan tetapi, jawaban Leo sungguh mengejutkan.
[Ra, kamu cukup di rumah aja gak usah ke mana-mana, aku yang bakal samperin kamu ke rumah. Please kasih alamat lengkapnya.]

Setelah membaca chattingnya, aku putuskan untuk melakukan video call. Agak lama tidak kunjung dijawab, membuatku semakin berdebar.

“Assalamualaikum, Ra ....” Suara itu, wajah itu, akhirnya aku melihatnya. Hanya satu kata yang tertulis di otakku “Tampan”. Wajah bersih dengan tulang rahang yang kuat, mata elang dengan alis tebalnya, membuatku terhipnotis sesaat.
Gugup kujawab salamnya. Leo tersenyum manis sekali kepadaku. Aku membalas senyumnya. Untuk beberapa saat hanya saling senyum dan pandang.

Ribuan kata yang pernah kutulis dicerita tak mampu menjelma saat aku berhadapan dengan Leo. Bukan hanya aku, dia juga tampak canggung sepertinya. Sebelum  kalimat itu meluncur dari bibirnya.
“Kamu cantik, Ra. Maukah kau melengkapi tulang rusuk kiriku?”

Deg! Hatiku berbunga-bunga, bahkan berbintang-bintang mungkin, karena saking bahagianya.

“Leo, apa kamu melamarku?”

“Iya. Gimana nih, diterima apa gak?”

Aku mengangguk bahagia. Leo berjanji secepatnya akan mengajak keluarganya ke rumah untuk melamar.

💙

Akhir Desember, dia bersama keluarga besarnya datang ke rumah. Tak kusangka ternyata aku akan mendapat suami dari Facebook. Berawal dari event ke pelaminan. Dari pertemuan itu disepakati pernikahan dan resepsi akan dilaksanakan tiga bulan lagi.

Untuk mengurus surat-surat persyaratan pindah nikah, Leo menginap di rumah selama tiga hari. Eh, tapi ... jangan berpikir macam-macam ya, calon suamiku itu tidur di kamar depan bekas anak kost. Selama tiga hari Leo di rumah, tak pernah lepas dari pengawasan kakak lelakiku. Bahkan, hanya untuk sekadar melakukan swafoto bersama saja, kakak melarangnya. “Belum halal, cuy.” Itulah yang dikatakan kakak sulung yang akan menjadi waliku nanti.

Malam terakhir Leo menginap di rumah, aku tidak bisa tidur. Berat rasanya esok akan berpisah dan baru akan bertemu tiga bulan lagi.
Saat sedang memikirkan penulis ulung itu, gawai di nakas bergetar. Pesan dari Leo.
[Say, kangen.]

[Sama, Yang.] Balasku.

[Keluar, dong. Pengen lihat calon bidadariku.]

[Gak berani, Yang. Kalo ketahuan Mas Renal, BAHAYA.]

[Bentaaar, aja. Besok aku udah kembali ke ibu kota, lho.]

Karena rindu yang menyiksa dan cinta yang membuncah, akhirnya aku memberanikan diri keluar kamar. Mengendap-endap hendak membuka pintu ruang tamu. Baru saja akan memutar kenop pintu, tiba-tiba terasa sebuah tangan memelintir daun telingaku.
“Aduh!” Mas Renal menangkapku.

“Mau ke mana, hayo? Sana balik ke kamar!” tegurnya sambil memelototiku.

Aku nyengir kembali ke kamar. Misi gagal.

💙

11 Maret, akad nikah berlangsung. Namun, aku benar-benar terkejut saat membaca data suamiku di buku nikah. Ternyata, usianya lebih muda tiga tahun dariku. Oh, Tuhan ... padahal dulu aku berkomitmen tidak akan menikah dengan brondong, tapi nasi sudah jadi bubur, cinta sudah mengakar, akhirnya komitmen tak ada artinya. Aku mendapat suami muda dari Facebook. Terima kasih Om Mark.

TAMAT.

• Hanya cerita fiksi, apabila ada kesamaan nama tokoh dan tempat semata-mata hanya untuk menghibur. Maaf jika GJ 😁
adsense 336x280

0 Response to "Cerita Fiksi, Suami Muda Dari Facebook"

Post a comment