Cerpen, Ibu..Kau Menderita Karena Bapak, Dan Aku Menderita Karena Mu

adsense 336x280
#Ibu...kau menderita karena bapak, dan Aku menderita karenamu#

Kisah nyata berbalut fiksi
POV (Ida)

Sore itu ibu menitipkanku ke panti asuhan. Aku dan ke empat adiku hanya bisa pasrah, waktu itu umurku 13 tahun, adik pertama 12 tahun, yang kedua 10 tahun, yang ketiga 7 tahun dan terakhir 5 tahun. Tapi apa jawaban ibu panti sungguh tak memuaskan ibuku, hanya tiga orang yang diterima di panti.

Adik-adikku adalah beban buat ibuku, maka ia pun merengek kepada ibu panti agar menerima ketiga adikku dengan alasan aku anak pertama punya sifat pemarah dan keras hati, lalu adik laki-lakiku sudah besar dan bisa dititipkan ke tempat keluarga dan tahukah ibu panti? kalau ternyata aku dijadikan pembantu dirumah keluarga, tanpa gaji karena ibu suka meminta uang dengan alasan membiayai adik-adikku. 

Walaupun tak pernah dianggap aku bukanlah anak yang tak tau diri. Aku masih ingat bahwasanya ibu mandi darah saat melahirkanku dan apa yang aku lakukan anggap saja bentuk bakti seorang anak kepada ibunya. 

Sajadah tak pernah kering dari linangan air mata dan menjadi saksi kerasnya kehidupan yang kujalani.

Pada akhirnya ibu panti pun menerima mereka, ini bukan kali pertama ibu menjelek-jelekan aku di depan adik-adikku,  hanya karna tubuh kecil nan ringkih yang tak mampu mengerjakan tugas rumah tangga layaknya orang dewasa.

Setiap hari ketika aku mengeluh aku capek bu terus-terusan cuci piring, karna piring jualan ibu tak ada habis-habisnya.

Ibu pun tak segan-segan mendaratkan pukulan demi pukulan dan mencubit lenganku hingga membiru.

Hanya karna aku mengeluh capek mencuci pakaian kami sekeluarga, dia berteriak dasar keras kepala, susah diatur padahal aku hanya berontak karena jari-jariku sudah mengerucut terlalu lama terendam air, dan tubuh kecilku sudah terasa oleng dan mati rasa tapi dia tidak mengasihaniku sama sekali malah menganggap aku pemarah dan keras kepala. 

Aku tak bergeming mendengar makiannya karena tubuh tak punya tenaga, kalau sudah begini aku hanya bisa merebahkan diri sampai rasa lelahku berkurang, dan Tuhan pun jadi saksi perlakuan dan makian ibu dilakukan di depan orang ataupun di depan adik-adiku. Sampai aku dewasa meskipun semua saudaraku mengerti agama tapi mereka menganggap aku anak durhaka, apapun yang kulakukan tidak pernah baik sama sekali, sudah cukup selama puluhan tahun semua ini dan aku lebih memilih menjauh dari mereka. 

Mereka selalu berusaha tampil parlente dan kelebihan mereka hanyalah itu saja, rumah masih ngontrak dan sebagainya, tapi mereka selalu menganggapku lebih rendah hanya karna aku tak ingin bermewah-mewahan sebelum punya tempat tinggal dan kendaraan yang layak, bahkan berfoto denganku saja mereka risih, hanya karena penampilan mereka yang wow, dan penampilanku yang oh. 

Bukan hanya itu ibu juga sering mencemooh suamiku, karena tak pandai bergaul dan tidak bisa memberikan materi yang banyak untuknya dan membandingkan dengan suami adik-adiku. 

Masa-masa kecilku juga menjadi trauma mendalam sebab adikku banyak dan ibu suka histeris berteriak memanggilku saat kewalahan menghadapi pola tingkah mereka yang masih kecil. Ibu adalah type orang yang selalu haus akan pujian orang lain berbagai cara ia lakukan agar dapat membuktikan diri dihadapan keluarga, tetangga dan juga teman-temannya

Dulu saat bapak masih ada, kami sekeluarga sangat bahagia hingga rezeki mengalir dengan begitu mudah dan lancar, belum genap setahun usiaku orang tuaku sudah berhasil membuat rumah besar untuk kami dan mampu membuat para tetangga menganga. 

Setelah 9 tahun menempati rumah baru kami, berita ini pun sampai ke kampung bapak, tak lama kemudian nenekku dan saudara-saudara bapak tiba dan tinggal di rumah kami dengan dalih mengadu nasib dan nenek beralasan ingin dekat dengan anak dan cucunya

Walaupun rumah kami dipenuhi keluarga bapak tak lantas membuat ibu nyaman dan beliau pun memanggil keluarganya juga dari kampung makin hari rumah kami makin ramai saja hingga ada 13 orang sanak keluarga yang tinggal dengan kami

13 orang ditambah kami sekeluarga 7 orang bayangkan berapa anggaran belanja satu hari, belum lagi pekerjaan rumah tangga yang menumpuk, dan dari sekian banyak orang itu tak ada satu pun yang memikirkan kelelahan ibu dan bapak dalam hal anggaran rumah tangga dan tugas rumah tangga dan ibu pun jatuh sakit, karna rasa sayangnya bapak pun menggaji dua orang asisten rumah tangga jadi genaplah 22 orang berada dalam satu rumah. 

Bapak adalah seorang coordinator diperusahaan migas yang hanya menerima gaji bulanan, untuk kami sekeluarga pasti gaji bapak cukup-cukup saja, tapi dengan keberadaan mereka sungguh membuat anggaran rumah tangga membengkak bahkan tak jarang bapak cash bon di perusahaan.

Keadaan seperti ini berlangsung selama satu tahun. Untuk membantu ekonomi keluarga yang morat-marit ibu pun membuka toko sembako dengan sisa-sisa tabungannya. 
Alih-alih dapat untung yang ada malah buntung, mereka berganti-gantian mengambil jualan ibuku dengan alasan kalau sudah dapat kerjaan di bayar, namanya ibu, dipuji sedikit, maka diberikanlah apa yang mereka minta.Tak sampai enam bulan warung sembako ibu pun tutup, tapi kabar gembiranya adalah perusahaan membuka lowongan kerja dan bapak berhasil memasukan tujuh orang dengan berbagai jurusan dan berharap mereka sebagian bisa mandiri dan tidak menggantungkan hidup kepada kami. 

Selepas gajian tak ada usaha mereka ingin mandiri seperti yang diharapkan bapak, malah mereka semakin nyaman saja tinggal di rumah kami, makan tidur, merokok gratis, utang tidak dibayar, gaji mereka dinikmati sendiri, tidak pernah terbesit sedikit pun di hati mereka untuk membantu keluarga kami, mereka hanyalah benalu yang menggerogoti kebahagiaan keluarga kecil kami.

Setelah kontrak kerja bapak habis biasanya disambung lagi, tapi karna dia akan di kirim maka ibu pun tak mengizinkan, dan menganjurkan bapak pindah kerja, kebetulan sebulan sebelum kontrak kerjanya habis bapak pernah di tawari perusahaan lain dan qadarullah dia diterima dengan gaji yang lebih besar dari sebelumnya dan bekerja tak jauh dari keluarganya. 

Tapi ternyata itu tak berlangsung lama hanya setahun bekerja, karena ada pekerjaan urgent maka mau tidak mau bapak harus dikirim karena sudah tanda tangan kontrak. Dengan berat hati ibu pun melepas kepergian bapak.

Selama dikirim bapak tidak pernah memberi kabar dan sepulang mengecek ATM pada saat gajian tak ada saldo yang masuk, ibu pun terlihat murung dan jadi pendiam, mengetahui hal ini satu persatu sanak saudara yang tinggal di rumah kami pamit pulang dan perhatian yang dulu sering mereka ucapkan tak pernah lagi terdengar, yang tersisa hanyalah harap cemas yang tak ada ujungnya.

Pada saat itu Ibu sering sekali memarahiku, bahkan aku takut berbicara padanya, karna yang kudapat hanyalah gertakan. Ibu lebih fokus melamun.

Rumah kami satu-satunya dijual dan di pakai bayar hutang yang menumpuk dan mulailah babak baru kehidupan kami.

Penulis: Windi Samsidar
adsense 336x280

0 Response to "Cerpen, Ibu..Kau Menderita Karena Bapak, Dan Aku Menderita Karena Mu"

Post a comment