Cerpen, Istri Warisan

adsense 336x280
Istri warisan

Seakan tak percaya ku mendengar berita, abangku satu-satunya, meninggal dunia karena kecelakaan. Abang yang selama ini membiayai kuliahku, Abang yang jadi panutan keluarga. Abang yang cukup sukses di kota, kami sekeluarga sangat terpukul, kakak iparku baru sebulan melahirkan anak kedua. 

Setelah fardu kifayah selesai, setelah tahlilan tiga malam selesai, aku dipanggil ibuku, katanya ada masalah penting yang harus dibicarakan. 

Aku masuk kerumah, kulihat sudah ramai orang, ada paman, ada tulang, ada juga kakak iparku. 

"Duduk dulu kau Ucok, kita mufakat dulu," kata tulangku. Akupun duduk bersila tepat ditengah. 

"Begini Cok, Abangmu sudah meninggal dunia, sementara kakakmu baru sebulan melahirkan, ini tanggungjawabmu, sebagai adik satu-satunya, kau harus bertanggungjawab terhadap kakak iparmu, juga terhadap anaknya yang juga anakmu." Kata Ayah memulai pembicaraan. 

"Iya, ayah, aku akan bertanggung jawab semampuku." kataku kemudian. 

"Setelah masa idah nya habis, kau harus segera menikah dengan kakak iparmu, ini demi kehormatan kita, demi anak yatim yang ditinggalkan." kata Ayah lagi. 

Aku terkejut dengan perkataan Ayah, kenapa aku harus menikah dengan kakak iparku? apakah bertanggungjawab itu harus menikahinya? Lalu bagaimana dengan Maya?  Gadis yang selama ini mengisi hatiku? 

"Kenapa harus aku Yah?" aku bertanya minta penjelasan. 

"Itu sudah adat kebiasaan kita, ini untuk menjaga hubungan dengan pihak tulang dan nantulangmu, karena cuma kaulah adiknya, jadi tanggung jawab ini ada dipundakmu." Pamanku ikut bicara. 

Aku tak tahu harus berkata apa? Aku memang kasihan dengan kakak iparku, anaknya dua masih kecil-kecil, tapi apakah aku harus mengorbankan masa mudaku? 

Kulirik kakak iparku, dia cuma menunduk dan membisu, kakak iparku memang orang yang baik, empat tahun aku kuliah, dia tak pernah mengeluh aku menumpang tinggal di rumahnya. Mereka punya usaha isi ulang air minum, memang kalau dipikir pikir, tak mungkin dia bisa meneruskan usaha itu, tampa ada lelaki dirumah nya. 

"Aku pikir pikir dululah Yah." kataku kemudian. Pertemuan itupun ditutup dengan catatan, aku harus mau, dan kakak iparku tak boleh kembali ke kota seorang diri. 

Aku bingung harus bagaimana, sedangkan kekasih sudah aku punya, dialah Maya, gadis dari desa tetangga, segera saja kutemui gadisku, meminta pendapatnya. 

Dia hanya menangis, setelah aku menceritakan semua. 

"Bagaimana pendapatmu Maya?" tanyaku lagi. 

"Aku harus bagaimana Bang? disatu sisi aku tak bisa kehilanganmu, disisi lain aku tak tega melihat kakak itu." kata Maya disela sela isakan tangisnya. 

Aku lelaki yang sulit menitikkan air matapun ikut menangis, kenapa pilihan ini harus datang padaku ya Allah? 

"Aku harus bagaimana Maya?" Tanyaku lagi, tapi hanya dibalas dengan tangisan. 

Aku pulang dari rumah Maya dengan perasaan tak menentu, aku tak tahu harus memilih apa, dari Maya pun tak ada keputusan, hanya menambah beban dihati. 

Tiga bulan kemudian keputusan harus diambil, kalau kupilih menolak menikahi kakak ipar? banyak orang yang kecewa, Ayah, Ibu, Tulang dan Nantulang pun akan kecewa. Kalau kupilih menikahi kakak ipar, ada hati yang hancur, dialah Mayaku, kekasihku selama enam tahun. 

"Aku ikhlas Bang, mungkin kita memang tak berjodoh," Akhirnya Maya mengucapkan kata itu, Ucapan Maya itu justru terasa menamparku, jodoh? Inikah yang dinamakan jodoh? 

Pernikahan itu terjadi juga, aku mengucapkan ijab kabul disaksikan Ayah, Ibu, Tulang dan Nantulang, aku resmi jadi suami kakak iparku sendiri, sementara kakak iparku ini sudah pasrah, bagaimana pun keputusan orang tua dia terima. 

Malam pertama

Kakak iparku yang kini jadi istriku, duduk ditepi ranjang, anak sulung dan sikecil sudah dibawa ibu mengungsi khusus malam ini, ada rasa canggung, biarpun kakak iparku hanya lebih tua setahun dari pada aku, tapi aku sungguh menghormatinya. 

"Kenapa kakak mau menikah denganku?" kataku coba mencairkan suasana. 

"Jangan panggil aku kakak lagilah, gak enak, masa suami manggil kakak sama istrinya?" kata kakak, ehh, istriku. 

"Aku cuma menerima apa yang diputuskan orang tua, aku bisa apa?" kata istriku lagi. 

Nurjanah nama kakak iparku, dulu dia adalah kembang desa, gadis paling cantik didesa kami, Abangkulah yang beruntung mendapatkannya, kini diwariskan padaku. 

Malam pertama tak terjadi apa-apa, aku sungguh tak bisa menggauli kakak iparku, biarpun dia sudah resmi jadi istriku, tapi rasa hormat itu masih ada, mengingat aku pernah tinggal dirumahnya selama empat tahun. 

Kami harus berangkat ke kota, tempat dimana usaha isi air ulang, yang harus dijalankan. Selama seminggu sejak menikah, aku tak pernah berani menyentuh istriku. Justru bayangan Maya yang selalu menghiasi hari hariku. 

Bersambung.
adsense 336x280

0 Response to "Cerpen, Istri Warisan"

Post a comment